Translate

Senin, 24 Mei 2010

PURA TIRTHA SUNIA MERTHA

Letaknya 200 m disebelah utara pura Anggreka Sari dengan mengikuti jalan setapak disebelah barat pura. Berada pada posisi koordinat S O8 24' 283"  dan E 115 38' 300", Jalan setapak ini melintasi kawasan pepohonan yang lingkungannya masih asri dengan udara  sangat sejuk . Menyusuri pinggiran sungai akhirnya tiba di kawasan Pura Tirtha Sunia Mertha. Pura ini juga disebut juga Tirtha Seliwah disebut demikian karena ada tiga pancuran yang berjajar horizontal dari arah selatan ke utara yang mengalirkan air suci bersumber dari mata air yang memiliki warna berbeda, yaitu; warna kuning, putih dan  hitam. Warna ini hanya dapat dilihat oleh mata bathin orang yang sudah waskita.
Tirtha ini  adalah pesucian Ida Bhatara Tiga yang berparahyangan di Pura Pesimpenan Agung Lempuyang Munduk Gunungsari  (Bhujangga-Dewa), yaitu :· Ida Bhatara Hyang Genijaya menciptakan tirtha berwarna putih, sebagai penegak dharma kerokhanian, kebenaran dan keadilan.· Ida Bhatara Putranjaya menciptakan tirtha berwarna kuning, sebagai Prabhu (RAJA) penegak keamanan dan ketentraman lahir-batin.· Ida Bhatari Dewi Danuh menciptakan tirtha berwarna hitam, sebagai pengaman / penegak kemakmuran (stabilitas ekonomi).
Makna filosifis yang terkandung didalam pengertian tirtha sunia mertha adalah air suci kehidupan di alam sunia/niskala, merupakan suatu proses pembersihan diri dari kehidupanyang semula hanya  bertumpu pada hal-hal material saja, namun sesungguhnya jangan melupakan yang bersipat non material(sunia). Sebab bagaimanapun uletnya seseorang  manusia mencari nafkah kalau tanpa restu Sang Pencipta, maka semuanya itu  akan sia-sia. Oleh karena itu ketika kita menjalani kehidupan didunia ada tiga peran penting yang direfleksikan oleh simbul-simbul yang ada di Pura Tirtha Sunia Mertha.
Pertama, perlambang Ida Bhatara Hyang Genijaya yang disimbolkan dengan warna putih selalu berhubungan dengan kesucian (rokhani). Bahwa apapun yang kita kerjakan jangan menyimpang dari kebenaran (dharma). Bahwa kebenaran itu merupakan pondamen utama apapun yang kita pikirkan, ucapkan ataupun perbuat (tri kaya parisudha), juga seperti apa yang tertulis dalam kitab (Brahma Purana,228.45) mengenai  Catur Purusartha menyebutkan " dharmarthakamamoksanam sariram sadhanamyang artinya Tubuh adalah alat (untuk mendapat) Dharma,Artha, Kama dan Moksa.
Kedua, perlambang Ida Bhatara Putranjaya adalah repleksi dari kehidupan kita dalam hal menegakkan kekuasaan, kewibawaan dan kecerdasan, yang banyak hubungannya dengan keamanan dan ketertiban. Sesungguhnya setiap individu mempunya fungsi untuk ; mengatur dirinya dari phase -phase kehidupan manusia yang disebut dengan Catur Asrama yaitu; brahmacari, grhasta, wanaprastha sdan Sannyasa (bhiksuka). Dengan demikian Catur Purusartha merupakan filsapat hidup dari Catur Asrama.  Bhatara Putranjaya punya peran sangat besar dalam mengendalikan kehidupan ini agar tercapai tujuan hidup sejahtra lahir bathin, aman tentram lohjinawi.
Ketiga,perlambang Ida Bhatara Dewi Danuh adalah repleksi kemakmuran,kesuburan dan kesejahteraan peran ini penting untuk tercapainya tujuan hidup "Moksartham Jagathita ya Caiti Darmah".Ketiga peran tersebut selalu melekat kepada setiap individu dan dalam segala fungsi dan posisi. Hukum keseimbangan tersebut dapat dicapai kalau kita selalu introspeksi diri dalam memahami tujuan hidup yang sebenarnya yaitu, meningkatkan kualitas diri dengan berperan langsung kepada lingkungan sehingga dirasakan betapa berharganya kehadiran kita. Kita mampu menjadi pelindung, menjadi perekat dan menjadi suri tauladan dalam kehidupan bermasyarakat, maka bersyukurlah karenanya. Ibarat lilin yang sedang menyala, selama lilin itu masih tersisa selama itu pula dia memberi penerangan, kehangatan dan keceriaan pada sekitarnya, sampai  lilin habis maka padam pula nyalanya. Namun masih menyisakan nilai manfaat yang mendalam terhadap nilai nilai yang tidak akan pernah dilupakan,Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar